Senin, 08 Januari 2024

PROTA PROMES PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA KURMER SD

Contoh Program Tahunan Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha Jenjang SD


Contoh Program Semester Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha Jenjang SD

Minggu, 07 Januari 2024

MODUL AJAR DAN BUKU PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA KURMER

Buku Pendidikan Agama Buddha untuk Buku Guru dan Buku Ssswa Kurikulum Merdeka, silakan kunjungi LMS PERGABI klik pada menu KURIKULUM MERDEKA, pilih BUKU sesuai kebutuhan bapak ibu guru.

Untuk Modul Ajar, Silakan bisa modifikasi dari LMS juga  LMS PERGABI pada menu KURIKULUM MERDEKA, pilih MODUL AJAR HASIL WORKSHOP

PERHATIAN

Jika bapak ibu belum mempunyai akun pada LMS tersebut, silakan membuat akun terlebih dahulu.



CAPAIAN PEMBELARAN PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA

 Capaian Pembelajaran Pendidikan Agama Buddha Silakan Klik  CP PAB REVISI JUNI 2022

ATP PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA KURMER

Silakan Kunjungi Platform Merdeka Mengajar  Klik CP ATP PAB Lengkap SD, SMP, SMA

Jumat, 28 Juni 2019

Drama Jataka

 Naskah Drama GABI

Judul: SUTASOMA (Jatakamakla)
Dikerajaan Kaurawa hiduplah pangeran Sutasoma yang dicintain segenap rakyatnya. Pangeran Sutasoma bijak dan welas, ia tersohor diseluruh negeri akan kecintaannya terhadap kebenaran. Suatu ketika Pangeran berjalan-jaqlan di taman.
Pangeran: Bukankah itu Brahmana Suci? Aku ingin mendengar Ajarannya.  Rama berikanlah Ajaran suci dan saya akan menghadiahi Rama.
Brahmana: Dengarkanlah kalau begitu Pangeran Welas.
Namun Tiba-tiba terdengar suara kentongan tanda bahaya
Pangeran: Maaf Rama, Saya berjanji akan mendengarkan ajaran Rama setelah ini.
Brahmana: Saya akan menunggu disini pangeran welas.
Prajurit: Pangeran …pangeran….pangeran bahaya. Si pemakan manusia telah datang dan ingin menangkap pangeran (sambil membawa kentongan)
Berita buruk tak menggetarkan kewelasan Sutasoma.
Pemakan Manusia: Aku telah menaklukkan 100 Raja. Tinggal Sutasoma.. hahahha…hahha.
Dimana Sutasoma, apakah kamu…?. (sambil mengamuk dengan beringas)
Pangeran: Jangan kejar mereka, kemarilah pemakan manusia. Aku disini (sambil naik kuda)
Pemakan manusia: Engkau Sutasoma?
Pangeran: Iya, ini aku (kuda sudah dilepaskan)
Pemakan manusia telah menangkap pangeran kemudian mengiktnya dan dibawa masuk gua oleh pemakan manusia.
Pemakan Manusia: huuuuh….Capek juga ternya. Akan ku korbankan engkau besok.
Pangeran: (terlihat sedih)…Ajalku telah dekat, tetapi aku masih meninggalkan janji mendengar ajaran brahmana dan menghadiahinya. Pasti brahmana telah menungguku.
Pemakan Manusia: haha…engkau menangis pasti karena takut mati.
Pangeran: Tidak pemakan manusia, melainkan saya menangisi janji saya yang tak terpenuhi.
Pengeran: Lepaskan lah saya agar bisa kembali menemui Brahmana itu, lalu saya berjanji akan kembali epadamu sendirian.
Pemakan Manusia: Baiklah, Larilah nanti juga akan aku tangkap lagi.
Pangeran: Jika saya berjanji, maka saya akan menepatibnya.
Pemakan manusia: terserahlah, pergi sana!
Maka Sutasoma memenuhi janjinya.
Brahmana: Demikianlah Kalimat  Suci.
Pangeran: Menakjubkan Rama, puas hati saya hingga rela saya menyambut ajal.
Kemudian pangeran menemui Ayahanda dan Ibunda

Cerpen Buddhis

MERANGKAI UNTAIAN ASA

    Mentari pagi menerobos masuk ke sela-sela bilik kamar dan menerpa wajahku. Segera kubuka mata dan kusadari bahwa hari telah pagi. Aku bergegas bangun, menyambar handuk menuju ke sumur. Tak lama aku membasahi tubuh ini, pintu kamar mandi diketuk dan kudengar suara ayahku,” buruan Wanda.....”  “Ya pak, sebentar...” aku segera menyelasaikan ritual mandi pagi ini dengan hati agak kesal pada ayahku.
    Aku segera masuk kamar untuk berganti pakaian, bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Sementara ibuku membekaliku dengan nasi dingin sisa semalam. Dibungkusnya nasi dingin itu dengan daun pisang kering dan dipadatkan membentuk sebuah bola nasi. Tanpa lauk, hanya dua biji cabe rawit dan sebotol air putih. Itulah bekal sekolahku setiap hari. Ayahku hanyalah seorang buruh bangunan sedangkan ibuku menjahit pita-pita kecil untuk aksesoris wanita dan sepatu bayi. Namun begitu orang tuaku selalu semangat berjuang untuk bertahan  hidup, demi masa depanku.
    Begitulah hidupku, namaku Wandani... ibuku menamakan demikian karena tatkala aku lahir sedang ada pertemuan ibu-ibu Wanita Theravadha Indonesia (Wandani) di vihara dekat rumahku. Ibuku sangat aktif mengikuti pertemuan itu sehingga menggunakan nama Wandani sebagai namaku. Kata ibu, beliau berharap kelak aku dapat tum buh menjadi wanita susila dan berkarya demi kemajuan agama Buddha.
    Namun, aku mempunyai sedikit ganjalan dalam hatiku. Seminggu yang lalu saat perayaan hari Ibu di viharaku, Bhante memberikan Dhamma Desana tentang bhakti anak kepada orang tua. Beliau mengutip kalimat dari kitab Anguttara Nikaya yang menyatakan bahwa,” Walaupun seseorang memanggul ibunya di satu bahu dan ayahnya di bahu lainnya, dan saat melakukannya ia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan jika ia melayani mereka dengan mengusapi mereka dengan minyak balsam, dengan memijat, memandikan, dan menguruti kaki dan tangan mereka, dan seandainya mereka membuang air besar disitu sekalipun---kendati demikian sekalipun,  belumlah cukup yang dilakukannya terhadap orang tuanya, dan ia belumlah membalas budi mereka. Kendati seseorang menempatkan orang tuanya sebagai raja dan penguasa agung atas bumi yang begitu kaya dengan ke tujuh hartanya ini, belumlah cukup yang dilakukannya bagi mereka, dan ia belumlah membalas budi mereka. Mengapa demikian? Orang tua sungguh berjasa terhadap anak-anaknya; mereka membesarkannya, memberinya makan, dan menunjukkan dunia kepadanya.”
    “Namun seseorang yang mendorong orang tuanya yang tidak percaya, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam keyakinan;  seseorang yang mendorong orang tuanya yang tidak bermoral, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam disiplin moral; seseorang yang mendorong orang tuanya yang kikir, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam kedermawanan; seseorang yang mendorong orang tuanya yang gelap batin, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam kebijaksanaan---orang seperti ini, telah melakukan cukup untuk orang tuanya; ia membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi mereka atas apa yang telah mereka lakukan.”
    Aku mencatat kutipan kalimat Bhante tersebut dalam sebuah buku kecil dan selalu aku baca mejelang tidur. Aku selalu berpikir bagaimana aku bisa melakukan sesuatu utnuk orang tuaku. Ayahku seorang pecandu rokok, baginya rokok adalah segalanya. Aku berniat untuk menyadarkan ayahku, menghentikan kebiasaan buruknya itu. Berbagai cara dan usaha telah aku lakukan, tetapi ayahku tetap tidak bergeming. Memang, rokok yang dihisapnya hanyalah rokok murahan, rokok tanpa cukai yang beredar bebas di kampungku. Harganya hanya dua ribu rupiah per bungkus berisi 12 batang rokok. Namun, bagi kami uang dua ribu dapat kami tabung untuk kebutuhan yang lain di kala kami dalam keadaan darurat.
    Tiga tahun yang lalu, saat disekolahku ada acara piknik ke Jakarta, aku terpaksa tidak ikut lantaran tidak ada biaya. Waktu itu aku sempat kesal pada ayahku, saat aku lihat ayahku duduk termenung sambil menghisap Layar Putihnya itu, aku sempat mengucapkan kata dengan nada agak tinggi,” coba kalo bapak ngga beli rokok terus, uangnya kan bisa Wanda tabung untuk ikut jalan-jalan ke Jakarta pak...” Ayahku pun menimpali dengan nada lebih tinggi lagi, “ Kamu pikir harga rokok bapakmu ini, cukup untuk biaya kamu jalan-jalan yang ngga ada artinya begitu....Apa si yang ngga bapak turuti dari kemauan kamu Wanda??? Kamu harusnya mengerti keadaan kita dong, buat makan aja kita susah..... “
Aku menangis namun,ibuku menghiburku dengan berkata, “ sudahlah Wanda... yang penting sekarang kamu belajar yang rajin, jika kelak kamu sudah bekerja, maka gaji yang kamu dapatkan bisa kamu gunakan untuk jalan-jalan ke Jakarta, kemanapun kamu suka....”  
    Dan dua tahun lalu, ketika ayahku terbaring di atas ranjang puskesmas, aku menemaninya dan mengingatkannya, “ tuh pak... dokter bilang bapak mesti berhenti merokok, agar kesehatan bapak pulih”.  Ayahku menjawab, “ bapak baik-baik saja Wanda, Wanda pulang aja bantu ibu di rumah, belajar dan raih semua mimpi serta cita-citamu...”, aku menitikkan air mata sambil mengusap halus tangan kasar ayahku, “ tapi bagaimana bapak bisa menyaksikan kesuksesan Wanda kelak, kalo kesehatan bapak begini....”  Tenang saja Wanda, bapakmu ini tidak akan sakit lagi...” “ tapi bapak janji berhenti merokok ya...” Rokok tidak akan mampu membunuh bapakmu ini...” aku berurai air mata tanpa bisa mengucap sepatah katapun.
Kali ini aku bertekad  kembali untuk menyadarkan ayahku, aku berpikir lama, sampai suatu ketika kudapatkan sebuah ide. Aku akan mengumpulkan semua bungkus rokok dan puntung rokok ayahku, untuk aku jadikan sebuah karya. Dan aku akan membantu ibu menjahit pita-pita kecil itu, untuk menggantikan harga rokok yang telah bapak habiskan. “Pak, bungkus rokok dan puntungnya jangan dibuang... tolong bapak masukkan ke dalam kantong plastik ini deh... mau Wanda kumpulin untuk tugas sekolah! “ Ayahkupun hanya menganggukkan kepalanya sambil berkata, “ ya....”
    Aku mulai    bekerja keras demi mewujudkan misiku.  Setelah pulang sekolah aku segera membantu ibu menjahit pita-pita kecil sebanyak mungkin dan segera mengantarkannya ke toko langganan  ibuku. Dan hasilnya aku berikan kepada ibuku, namun ibuku memberikan bagian sesuai dengan penghasilanku hari ini. Aku begitu bersemangat melakukan semua pekerjaan ini. Uang lembaran dua ribuan kulipat menjadi bentuk segitiga dan aku kumpulkan selember demi selembar. Semua bungkus rokok dan puntung bekas ayahku, aku kumpulkan juga di dalam bilik kamarku.
Aku mulai menyusun bungkus-bungkus rokok itu menjadi sebuah Stupa. Aku tempel dan rekatkan dengan lem dan solasi. Sedangkan puntung rokok itu aku bersihkan  dan aku tempelkan di atas lembaran kertas manila putih. Lalu kuwarnai menjadi sebuah gambar Buddha yang indah. Sedangkan lembaran uang dua ribuan yang telah aku lipat menjadi bentuk segitiga kususun menjadi sebuah bunga  teratai yang besar dan cantik. Aku berniat memberikan karya ini kepada ayah ibuku di Waisak mendatang.
Akhirnya waktu yang kutunggu pun tiba.  Waisak kali ini di viharaku akan diadakan acara   sungkeman (sujud di kaki orang tua). Aku akan melaksanakan ritual ini dan memberikan semua karya ini kepada ayah ibuku. Aku membayangkan keharuan yang terjadi saat acara berlangsung nanti. Aku yakin suasana  haru pasti menyelimuti acara kami nanti.
Irama musik lagu-lagu Buddhis dan lantunan Paritta mulai terdengar di vihara kami. Aku bergegas melangkah menuju ke vihara dan turut berpartisipasi membantu menyiapkan berbagai sarana dan prasarana Puja Bhakti. Ayahku membantu memasang karpet dan menata bantal-bantal alas puja bhakti, dan ibuku bersama-ibu-ibu yang lain telah menyiapkan makanan untuk kami makan bersama setelah selesai acara. Puja bhakti segera dimulai dan detik-detik Waisak pun kami songsong dengan bermeditasi. Setelah semua selesai kami menyiapkan kursi mengelilingi Dhamma Sala vihara kami dan mempersilakan para orang tua untuk duduk di sana. Kami para anak-anak berbaris berjalan sambil jongkok  dan mengucapkan selamat Waisak kepada para orang tua dan bersujud di kaki orang tua kami. Suasana benar-benar mengharukan, semua orang tua dan anak-anak mereka salig berpelukan dan saling mencium beruarai air mata. Begitu juga aku dan ibuku.
Setelah makan bersama divihara, kami pulang ke rumah masing-masing. Aku bergegas masuk ke kamarku dan membawa karya terindahku. Kuserahkan miniatur stupa kepada ayahku sambil berkata,” Selamat Waisak pak, ini buat bapak... semua adalah bungkus rokok dan puntungnya yang telah bapak habiskan selama ini... inilah pak...” “terima kasih Wanda, jawab ayahku sambil meletakkan stupa itu ke sudut ruang tamu sempit rumahku, dan menempelkan kolase Buddha ke dinding bambu rumahku. Ayahku terharu, meraba kolase itu lalu beranjali dan berkata, “ semoga aku mampu menjadi ayah yang baik buat anakku...”
Ayah tahu betapa banyak bungkus rokok dan puntung tak berguna yang telah merenggut tubuh dan kesadarannya. Ayah menyadari semuanya, namun tiada kata terucap dari bibirnya. Kepada ibuku, aku menyerahkan bunga teratai besar yang terbuat dari susunan uang dua ribu kertas. “ibu, ini untuk ibu, ini adalah hasil jerih payah Wanda selama ini, ini adalah uang yang harganya sama dengan semua bungkus rokok yang telah Wanda jadikan stupa. Semoga uang ini bermanfaat untuk ibu.” Ibu memelukku sambil menatap  wajah ayah yang cerah. Ayah dan ibu tersenyum bahagia. “Wanda, hari ini, Waisak kali ini, adalah Waisak terindah buat ayah, ayah akan berhenti merokok, ayah janji... terima ksih Wanda...” aku lega... aku terharu, kupeluk ayah ibuku dengan segenap hatiku. Akhirnya aku berhasil menyadarkan ayahku.
Misiku berhasil, paling tidak aku telah mampu menghentikan kebiasaan buruk ayahku. Aku lega...terima kasih bhante... walaupun aku tidak mampu membalas pengorbanan mereka, paling tidak aku bisa membuat ayahku hidup sehat dan tidak lagi tergantung pada rokok.   
(Karya: Rukati, Wandani Pc. Kab. Pati, Jawa Tengah)

Soal PAB Kelas 6

https://forms.gle/EENcV4xs12832Jhx6